Potensi Bisnis Usaha Jasa Konstruksi di Indonesia

Potensi Bisnis Usaha Jasa Konstruksi di Indonesia
20/03/2014 No Comments Business John Pedro

Pasar usaha jasa konstruksi di Indonesia sangat berpotensi, dimana kegiatan investasi yang dilakukan oleh pemerintah dan sektor swasta setiap tahunnya meningkat. Hal ini, berkaitan juga dengan cakupan wilayah dan jumlah masyarakat (publik) yang mesti mendapatkan pelayanan.

Pemanfaatan potensi usaha jasa konstruksi di Indonesia dapat dilakukan dengan pelibatan pengusaha nasional secara kompetitif melalui proses yang transparan, adil, efisien dan efektif (ekonomis), serta penegakan hukum. Selain itu, dibutuhkan peningkatan kemampuan (capacity building) kontraktor, dan implementasi kebijakan yang berpihak pada pengusaha nasional.

Pelibatan usaha jasa konstruksi nasional diharapkan akan dapat menciptakan lapangan kerja, peningkatan layanan infrastruktur publik, dan usaha jasa konstruksi nasional dapat bersaing pada pangsa pasar regional, pasar domestik, dan pasar luar negeri.

Bisnis usaha jasa konstruksi merupakan usaha yang mempunyai karakteristik tertentu dan unik, dimana memiliki batasan-batasan (constrain) yang harus dipenuhi, yaitu (1) waktu berkaitan dengan periode pelaksanaan proyek, (2) biaya berhubungan dengan anggaran proyek, dan (3) mutu berkaitan dengan spesifikasi, serta (4) keselamatan dan kesehatan kerja bagi pekerja dan masyarakat di sekitar proyek. Selain itu, melibatkan banyak pihak yang memiliki disiplin ilmu yang beragam dan pekerja yang tanpa keterampilan (non skill)

Pangsa pasar bisnis usaha konstruksi dapat dibagi menjadi dua bagian, berdasarkan kegunaan konstruksi tersebut dan kepemilikannya, yaitu (Asnudin A, 2004) :
(1) Proyek konstruksi digunakan untuk kepentingan umum (public project), sistem pengadaan kontraktor dilakukan berdasarkan peraturan/perundangan yang berlaku, seperti kebijakan pemerintah setempat (autonomyregulation), kebijakan negara donor (loan/hibah), dan program – program yang dikembangkan oleh organisasi non pemerintah (NGO).
(2) Pengadaan proyek konstruksi untuk kepentingan pribadi (private project). Sebagai pemilik proyek (owner) mempunyai otoritas penuh untuk menentukan kriteria yang digunakan untuk pengadaan kontraktor, antara lain : Pemilik proyek (owner) bebas menentukan kontraktor dengan cara apapun, bebas melakukan negosiasi dengan salah satu kontraktor dan dapat membatasi kontraktor yang di undang / ditawarkan suatu pekerjaan, pengumuman dapat dilakukan secara terbuka (transparan) untuk mendapatkan penawaran kontraktor yang kompetitif.

Pasar adalah tempat penjual yang ingin menukar barang atau jasa dengan uang, dan pembeli yang ingin menukar uang dengan barang atau jasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001).
Fungsi pasar untuk suatu organisasi, yaitu merupakan tempat untuk memasarkan jasa atau produk, dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan organisasi.
Pasar dalam artian di lingkup jasa konstruksi adalah suatu proses transaksi antara penyedia jasa dan pengguna jasa, dimana (1) penyedia jasa adalah badan usaha atau orang perseorangan yang kegiatan usahanya menyediakan barang/layanan jasa, dan (2) pengguna jasa adalah sebagai pemilik pekerjaan yang bertanggungjawab atas pelaksanaan pengadaan barang/jasa dalam lingkungan proyek tertentu.

2. Tujuan Usaha Jasa Konstruksi
Pendirian suatu badan usaha jasa konstruksi mempunyai tujuan melakukan kegiatan bisnis di bidang jasa konstruksi dengan harapan dapat memperoleh keuntungan.
Beberapa cara yang mesti diketahui oleh kontraktor sebagai penyedia jasa konstruksi, antara lain

(1) mendapatkan proyek,

(2) mendapatkan keuntungan dari pelaksanaan proyek tersebut, dan

(3) menjaga keberlangsungan perusahaannya.
Keberlangsungan usaha jasa konstruksi memerlukan pengelolaan yang mempunyai orientasi pengembangan usaha yang jelas dengan memperhatikan kebutuhan pasar, dan perkembangan sumber daya, serta kemajuan teknologi.

3. Layanan Jasa Konstruksi
Lingkup pasar jasa atau layanan jasa konstruksi dapat diklasifikasikan berdasarkan bidangnya, yaitu sebagai berikut: (LPJKN, 2006).
(1) Bidang Arsitektur yang mencakup: perumahan, bangunan pergudangan dan industri, bangunan komersial, fasilitas olahraga dan rekreasi, pertamanan.
(2) Bidang Sipil meliputi, jalan dan jembatan, terowongan, pelabuhan/dermaga, drainase, bendung/bendungan, irigasi.
(3) Bidang Mekanikal dengan cakupan: instalasi ac dan ventilasi udara, perpipaan air, instalasi lift dan escalator, pertambangan dan manufaktur, instalasi thermal, konstruksi alat angkut, konstruksi perpipaan minyak, fasilitas produksi, penyimpanan minyak dan gas, jasa penyedia alat konstruksi.
(4) Bidang Elektrikal meliputi: pembangkit tenaga listrik, jaringan transmisi tenaga, jaringan distribusi tenaga listrik, jaringan distribusi telekomunikasi, instalasi kontrol, instalasi listrik.
(5) Bidang Tata Lingkungan mencakup: perpipaan air, minyak dan gas jarak jauh, perpipaan gas dan air lokal/perkotaan, pengolahan air bersih, pekerjaan pengeboran air tanah.

Beberapa hasil penelitian (Asnudin A, 2004; Tilaar & Asnudin A, 2007; Sundari Sri, 2008) menunjukkan bahwa, pada umumnya penyedia jasa konstruksi untuk skala kecil dan menengah mengerjakan paket proyek konstruksi pada bidang sipil, seperti drainase, proyek jalan dan jembatan, irigasi. Sementara untuk bidang mekanikal dan elektrikal persentase keterlibatan sangat kecil. Hal ini, memberikan gambaran bahwa rendahnya kapasitas sumber daya yang dimiliki oleh penyedia jasa, seperti, penguasaan teknologi, kemampuan teknis dan manajemen, serta kemampuan finansial. Sebab untuk bidang pekerjaan lain cenderung membutuhkan penggunaan alat berat dan implementasi teknologi tinggi, serta umumnya merupakan klasifikasi pekerjaan yang berisiko tinggi.

Selain itu, permasalahan yang dihadapi oleh kontraktor yang kategori skala kecil pada proyek konstruksi , antara lain, (1) distribusi proyek yang tidak merata, (2) desain dan metode konstruksi yang tidak berbasis padat karya (labour based), sementara kontraktor mempunyai keterbatasan peralatan, (3) kemampuan finansial yang terbatas, sementara akses ke institusi keuangan yang sulit, (4) penegakan hukum yang lemah dan unsur KKN sering terjadi.

4. Pasar Proyek Konstruksi
Pangsa pasar konstruksi baik dari sumber APBN/APBD, dan kegiatan investasi BUMN/BUMD, serta Swasta setiap tahunnya meningkat, pada tahun 2002 dengan anggaran Rp.88 triliun, sedangkan pada tahun 2003 meningkat menjadi Rp.107 triliun, tahun 2004 sejumlah 160 triliun sedangkan pada tahun 2005 menjadi Rp.168 triliun dan tahun 2008 diperkirakan mencapai Rp.170 triliun (gambar 1) . Apabila di elaborasi per sektor, maka pasar jasa konstruksi adalah: sektor transportasi 42 persen, sektor migas 3 persen, sektor energi listrik dan sektor sumber daya air 23 persen, sektor air minum dan sanitasi 9 persen, sektor perumahan dan permukiman 21 persen, serta sektor telekomunikasi sebesar 2 persen (BPS, 2007).

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Diar (2007) menunjukkan bahwa pangsa pasar akan mengalami peningkatan yang cukup signifikan karena kepercayaan sektor swasta mulai meningkat, gejolak harga minyak mulai stabil, dan kebijakan-kebijakan ekonomi cenderung stabil.

(Andi Asnuddin)

sumber : jurnal.untad.ac.id

Tags
About The Author

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Start a Conversation
Hi! Click one of our members below to chat on WhatsApp